Yogyakarta dan Prambanan

Masa kecil, masa yang akan dilewati setiap titik kehidupan. Ada apa dengan masa kecil? Seringkali orang menanyakan besar dimana. Saya besar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebuah daerah yang telah dinyatakan istimewa melalui UU Keistimewaan No. 13 tahun 2012. Negara Indonesia memiliki beberapa daerah otsus selain DIY yaitu Sumatera Barat (telah dihapus), Nangroe Aceh Darussalam, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan Papua (Baik Papua serta Papua Barat). Daerah Istimewa yang memang dari dulu orang-orangnya juga istimewa. Istimewa tingkat harapan hidup di jogja itu tinggi. Menurut BPS 2020, rata-rata usia harapan hidup di jogja yaitu 75 tahun. Lagi-lagi berbicara masa kecil, saya habiskan di kecamatan super terkenal yaitu Prambanan. Tidak ada definisi jelas terkait arti Prambanan. Namun, kami keluarga hidup di desa kecil yaitu Desa Wukirharjo. Mascot dari Kabupaten kami Sleman “SEMBADA”. Bukan masalah itu yang paling berkesan. Masalah kekeringan yang kami alami dari TK – SMP sehingga motto hidup kami hemat-hemat air.

TK-SMP (2000-2010) saya habiskan di Kecamatan Prambanan. Saya tidak akan menceritakan masa SD saya karena masa itu membekas Gempa 2006. Perjalanan pun dilanjutkan ke SLTP atau SMP. Jarak rumah ke SMP kurang lebih 12 km kami lalui dengan jalan kaki (pulang pergi) atau sesekali kami menumpang truk bak terbuka yang biasa digunakan untuk mengangkut kambing atau tambang batu putih. Berangkat sekolah basah kuyup akan keringat dan pulang sekolah basah kuyup akan keringat. Setelah itu saya putuskan untuk memulai lembaran baru keluar dari zona nyaman atau zona kampung untuk ke SMA di pinggiran kota. Shock culture saya alami terutama masalah keuangan itu nyata. Perbedaan handphone yang digunakan itu juga nyata. Itulah yang menghubungkan kami Yogyakarta dengan Prambanan. Yogyakarta adalah kota yang maju dengan berbagai latar pendidikan serta Prambanan yang maju dengan pariwisata.


Pelajaran yang kami terima selama itu adalah culture dan membantu orangtua kami, Yaitu membawa damen (sisa daun padi yang sudah di panen) dengan motor dari Kecamatan Berbah dan Kalasan menuju Desa Wukirharjo, Prambanan menaiki Bukit yang curam. Tentu kebiasaan itu masih kami lakukan karena daerah kami termasuk tidak subur. Lantas seiring berjalannya waktu sudut kotaku dan kotamu akan berubah. Tentu aku tidak bisa mengulangi waktu itu di masa sekarang. Yang akan tetap ada ya nama Yogyakarta dan Prambanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: